Probolinggo – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Probolinggo kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan tuntunan moral dan keagamaan bagi masyarakat dengan menerbitkan dua tausiyah strategis yang ditujukan kepada Pemerintah Kota Probolinggo dan seluruh elemen masyarakat. Kedua tausiyah tersebut mengangkat isu aktual mengenai penguatan pembinaan dan penanganan perilaku LGBT serta pelaksanaan perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi Kota Probolinggo.
Ketua Umum MUI Kota Probolinggo, Prof. Dr. KH. Muhammad Sulthon, M.A., menegaskan bahwa penerbitan kedua tausiyah tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan fungsi MUI sebagai khadimul ummah (pelayan umat) dan shadiqul hukumah (mitra pemerintah), yaitu memberikan nasihat keagamaan demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang religius, harmonis, aman, sehat, dan bermartabat.
Tausiyah pertama membahas Penguatan Pembinaan dan Penanganan Perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Kota Probolinggo. Dalam dokumen tersebut, MUI mengajak Pemerintah Kota Probolinggo untuk memperkuat langkah-langkah pembinaan melalui pendekatan yang komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari unsur keagamaan, psikologi, sosial, kesehatan, hingga penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. MUI juga mengajak masyarakat untuk memperkuat pendidikan agama dan ketahanan keluarga, mengedepankan dakwah yang penuh hikmah, serta menghindari tindakan perundungan maupun main hakim sendiri.
Sementara itu, menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi Kota Probolinggo, MUI Kota Probolinggo menerbitkan tausiyah kedua yang mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum kemerdekaan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus memperkuat persatuan bangsa. MUI mengimbau agar seluruh kegiatan perayaan, termasuk karnaval dan pawai, diselenggarakan secara kreatif, edukatif, santun, serta tetap menghormati nilai-nilai agama, norma kesusilaan, etika, dan budaya bangsa. Selain itu, MUI juga mengingatkan pentingnya menjaga kesopanan berpakaian, memperhatikan waktu pelaksanaan salat, serta menjaga keamanan, ketertiban, dan kebersihan selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Menurut MUI Kota Probolinggo, kedua tausiyah tersebut memiliki benang merah yang sama, yakni memperkuat karakter masyarakat melalui nilai-nilai keagamaan, membangun ketahanan keluarga, menjaga kerukunan sosial, serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, lembaga pendidikan, aparat penegak hukum, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh elemen masyarakat.
MUI menilai bahwa tantangan kehidupan saat ini tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan moral, akhlak, dan karakter bangsa. Oleh karena itu, pembinaan generasi muda, penguatan keluarga, serta penyelenggaraan kegiatan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai agama dan kebangsaan menjadi bagian penting dalam mewujudkan Kota Probolinggo yang semakin religius dan berkeadaban.
Melalui penerbitan dua tausiyah tersebut, MUI Kota Probolinggo berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat sinergi dalam membangun kehidupan masyarakat yang damai, toleran, tertib, serta menjadikan nilai-nilai agama sebagai landasan dalam setiap kebijakan dan aktivitas sosial kemasyarakatan. Dengan demikian, Kota Probolinggo diharapkan terus tumbuh sebagai kota yang religius, harmonis, maju, aman, dan bermartabat.